Monday, 11 August 2008

SAJAK-SAJAK MERDEKA

TENTANG KRITIKAN

Dalam simpang- siur kritikan itu
tertulis sebuah puisi yang terasing
daripada perdebatan berlingkar berbelit
menyeringai ke angkasa tinggi
memuntahkan pelangi.

Memang perdebatan bisa seru dan sengit
tak selalu lurus kerana berbelit
bagai ular dan naga
menelan ekor kecilnya
yang disangka geliga.


ABOUT CRITICISM


On the higway of criticism
is etched a poem, one alien
to the rambling debates
grinning to the high heavens
and throwing up a rainbow.

It's true, debates may turn bitter
often indirect , for they wind
as snakes and dragons
which swallow their tails
mistaking them for pearls

( Translated by Prof. Muhammad Haji Salleh
from Postponing Truth and Other Poems)

3 comments:

Izwan said...

Datuk yang saya kagumi..

Kritikan kadang-kadang memakan
diri..

Kadang-kadang kritikan juga membuat dan menjana saraf otak menjadi kritis dan kreatif..

Kompleks nya jiwa-jiwa manusia didatangi bala taufan dan badai lautan tapi tiada pedoman.. Aduh..

Kekuatan yang dicari mungkinkah ditemui di celah-celah himpitan kehidupan..

Danielle_Corleone said...

Datuk, terjemahan puisi itu bagaimana sifat utamanya ya?

SATIRA + KACAU said...

Pak Baha Ydh: Walau secara diam, namun tetap mencengkam.

Satira + Kacau